LEBAK, TintaKitaNews.com – Ribuan warga Suku Baduy memadati Gedung Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, pada Jumat malam, 24 April 2026, untuk melaksanakan tradisi tahunan Seba Baduy. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil panen sekaligus sarana komunikasi dan silaturahmi antara masyarakat adat dengan pemerintah daerah.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 1.515 orang hadir dalam puncak ritual yang dimulai pukul 20.00 WIB. Rombongan tersebut terdiri dari 37 warga Baduy Dalam dan 1.478 warga Baduy Luar. Mereka tampil mengenakan pakaian adat khas, yakni busana putih bersih lengkap dengan lomar (ikat kepala) putih untuk Baduy Dalam, serta pakaian berwarna biru gelap untuk Baduy Luar.

Menariknya, perbedaan cara perjalanan juga menjadi ciri khas dalam tradisi ini. Warga Baduy Luar menggunakan 85 unit bus jenis Elf, sementara warga Baduy Dalam tetap setia pada adat istiadat dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 160 kilometer pulang-pergi dari kawasan pedalaman menuju Rangkasbitung. Mereka berangkat sejak pukul 03.00 WIB dini hari agar dapat tiba tepat waktu.

Dalam acara tersebut, masyarakat Baduy menyerahkan berbagai hasil bumi sebagai persembahan dan tanda penghormatan. Hasil bumi yang dibawa antara lain beras huma, ubi-ubian, pisang, gula aren, kue tepung laksa, hingga madu. Ritual ini juga menjadi momen penting untuk menyampaikan amanat leluhur serta mempererat hubungan harmonis antara komunitas adat dan aparat pemerintahan.

Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, yang hadir bersama Muspida setempat, menyambut baik pelaksanaan tradisi ini. Menurutnya, Seba Baduy bukan sekedar upacara adat, melainkan juga membawa pesan penting tentang kesederhanaan, keseimbangan hidup, dan penghormatan terhadap alam yang patut dilestarikan.

“Masyarakat Baduy memberikan contoh bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari perubahan yang cepat, tetapi dari kekuatan menjaga kejujuran, kesabaran, kebersamaan, dan rasa hormat kepada sesama serta alam,” ujar Bupati Hasbi dalam sambutannya.

Sementara itu, Dawil, salah seorang tokoh pemuda dari Kampung Kadu Keter, menyampaikan rasa bangganya dapat melanjutkan warisan budaya nenek moyang. Bagi generasi muda, Seba bukan hanya kewajiban adat, tetapi juga cara untuk menjaga identitas dan nilai-nilai luhur di tengah perkembangan zaman.

“Ini adalah cara kami menghormati leluhur, bersyukur kepada Tuhan, dan tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah. Meskipun zaman berubah, nilai-nilai yang diajarkan dalam tradisi ini tetap relevan dan harus kami wariskan ke anak cucu nanti,” ungkap Dawil.

Rangkaian acara Seba Baduy 2026 berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 23 hingga 26 April 2026, dengan mengusung tema “Warisan Karuhun, Inspirasi Kiwari, Ngahiji Dina Tradisi”. Usai bersilaturahmi di Pendopo Lebak, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Gedung Negara Provinsi Banten di Kota Serang untuk bertemu dengan Gubernur Banten, Andra Soni.

Tradisi Seba Baduy telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Banten khususnya warga Kabupaten Lebak.