MEDAN, TintaKitaNews.com – Sebanyak 670 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA di bawah naungan Perkumpulan Perguruan Nasrani Medan (PPNM) mengikuti try‑out Bahasa Inggris secara serentak di empat lokasi pada Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik menyambut kebijakan penguatan pembelajaran Bahasa Inggris yang akan diberlakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai tahun ajaran 2027/2028.
Empat titik pelaksanaan try‑out tersebut adalah Kompleks S. Parman, Kompleks Sehati, Kompleks Turi, dan Kompleks Pengayoman. Peserta terdiri atas siswa kelas IV‑VI SD, VII‑IX SMP, serta X‑XII SMA. Setiap peserta mengerjakan 50 butir soal, dengan alokasi waktu 60 menit untuk jenjang SD‑SMP dan 75 menit untuk jenjang SMA.
Ketua PPNM Drs. Chandra Silalahi, M.Si., bersama jajaran pengurus melakukan pemantauan langsung ke lokasi uji coba. Ia menyampaikan antusiasme tinggi dari para siswa selama pelaksanaan berlangsung. “Kebijakan penguatan Bahasa Inggris sudah dikeluarkan pemerintah, sehingga kami mengambil langkah awal dengan try‑out guna mengetahui sejauh mana kemampuan siswa saat ini,” ujarnya.
Koordinator Bahasa Inggris PPNM Gayatri Tarihoran menambahkan, penguasaan Bahasa Inggris menjadi bekal penting di era digital untuk membuka peluang persaingan internasional. Selain mengukur kemampuan akademik, kegiatan ini juga bertujuan melatih pengelolaan waktu, konsentrasi, dan kesiapan mental siswa menghadapi sistem penilaian ujian.
Kepala sekolah di lingkungan PPNM menyambut baik program tersebut. Kepala SD PPNM Lisbeth Erina Sibagariang, S.Pd., menyatakan hasil try‑out dapat menjadi acuan guru untuk mengevaluasi efektivitas metode pengajaran yang selama ini diterapkan. Sementara itu, Kepala SMP PPNM sekaligus Koordinator Try Out Hesti H. Panjaitan menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran dan kompetensi tenaga pendidik guna mencetak generasi yang berdaya saing global.
Pengurus PPNM Ir. Edward Silaen juga berharap dorongan terhadap guru Bahasa Inggris dapat terus diperkuat melalui dukungan kepala sekolah masing‑masing, sehingga siswa tidak hanya mahir berbahasa Inggris, tetapi juga terbuka mempelajari bahasa lain.***
