BANTEN, TintaKitaNews – Kondisi jalan poros yang menghubungkan Desa Tanjung Wangi, Pasir Nangka, dan Pasir Eurih di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten masih dalam kondisi rusak parah hingga Mei 2026. Kerusakan yang ditandai dengan banyak lubang, permukaan berlumpur saat hujan, dan adanya batuan tajam ini telah menghambat berbagai aktivitas warga, terutama akses ke fasilitas pendidikan, meskipun usulan perbaikan telah diajukan sejak tahun 2023 namun belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas dari pihak berwenang.
Pegiat sosial Sastra Wijaya menyoroti dampak serius yang ditimbulkan oleh kondisi infrastruktur tersebut. Menurutnya, kerusakan jalan bukan sekedar masalah ketersediaan fasilitas umum, melainkan hambatan langsung bagi kesempatan belajar dan kualitas hidup masyarakat sekitar.
“Jalan yang berlubang, rusak, dan sulit dilalui ini membuat perjalanan warga, terutama siswa dan guru ke sekolah menjadi terganggu. Ada risiko kecelakaan, kendaraan sering mogok, dan waktu perjalanan menjadi jauh lebih lama. Padahal usulan perbaikan sudah diajukan sejak tahun 2023, namun sampai hari ini tidak ada kejelasan kapan atau apakah perbaikan itu akan dilakukan. Hal ini jelas merugikan masyarakat dan menghambat kualitas akses pendidikan yang seharusnya menjadi hak setiap warga,” ujar Sastra Wijaya dalam keterangannya pada Selasa (12/5/2026).
Ia juga menambahkan bahwa kondisi ini semakin membebani warga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan dan perbaikan kendaraan akibat jalan yang buruk, selain kerugian akibat keterlambatan atau ketidakmampuan untuk mencapai tempat pendidikan dan kebutuhan sehari-hari dengan lancar.
Masalah ini sangat terasa bagi warga dan pengelola SMAN 2 Muncang. Perwakilan sekolah, Ilham, menyatakan kondisi akses jalan menuju sekolah sangat mengganggu seluruh aktivitas pendidikan. Jalan yang sulit dilalui menghambat mobilitas, meningkatkan risiko kecelakaan, dan sering menyebabkan keterlambatan yang mengurangi jam efektif kegiatan belajar mengajar. Dampak ini tidak hanya dirasakan siswa dan tenaga pengajar, tetapi juga mempengaruhi distribusi logistik sekolah serta akses tamu kedinasan.
“Secara fisik gedung sekolah kami mampu menampung lebih banyak siswa. Namun, akses jalan yang buruk membuat calon peserta didik dan orang tua berpikir ulang untuk bersekolah di sini, terutama yang berasal dari wilayah jauh. Kapasitas gedung belum bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkap Ilham.
Kondisi ini juga memengaruhi minat warga untuk memilih SMAN 2 Muncang sebagai tempat menimba ilmu, terlebih setelah diterapkannya sistem zonasi pendidikan. Tak sedikit calon siswa yang akhirnya memilih bersekolah di Kecamatan Leuwidamar karena akses jalan yang lebih layak.
Kepala Desa Tanjung Wangi, Satria, menjelaskan bahwa usulan perbaikan jalan tersebut telah masuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sebanyak tiga kali berturut-turut pada tahun 2023, 2024, dan 2025, serta diperpanjang usulannya pada tahun 2026. Selain itu, warga dan perangkat desa juga telah mendatangi Kantor Bupati Lebak, mengajukan proposal resmi, hingga membawa persoalan ini ke tingkat Pemerintah Provinsi Banten melalui Ketua Lembaga Desa Bersatu dan Ketua APDESI Kabupaten. Namun, hingga kini belum ada respon positif maupun tindakan nyata dari pihak berwenang.
“Kami sudah berjuang sampai ke tingkat provinsi, tapi faktanya jalan masih rusak parah. Hanya janji yang kami dapatkan, tanpa bukti perbaikan di lapangan,” tegas Satria.
Warga juga menyoroti janji-janji politik yang dilontarkan saat masa kampanye. Jalan ini pernah menjadi materi janji pasangan calon yang diusung tim pemenangan Ega-Epul, namun hingga kini belum ada realisasinya. Darja, salah satu warga setempat, mengaku kecewa karena janji tersebut hanya tertulis dan diucapkan, tanpa adanya tindakan nyata demi keselamatan warga dan pelajar.
Hal senada disampaikan Ojak, warga Kampung Mekar Tanjung yang tinggal berdekatan dengan SMAN 2 Muncang. Ia menyebut kerusakan jalan sudah berlangsung lama, dan saat hujan jalan menjadi sangat licin serta berlumpur. Banyak kendaraan tergelincir atau jatuh, yang membahayakan keselamatan anak-anak yang berangkat sekolah setiap hari.
“Kami sering melihat seremoni pembangunan di tempat lain, tapi di sini kami masih berjuang dengan jalan rusak. Ini bukti nyata pemerataan pembangunan belum merata. Kami berharap pemerintah tidak hanya datang saat kampanye, tapi serius memperbaiki jalan ini sebagai urat nadi pendidikan dan akses kebutuhan sehari-hari,” ujar Ojak.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih mencoba mengonfirmasi pihak-pihak terkait terkait rencana penanganan dan penyelesaian masalah jalan tersebut.

Tinggalkan Balasan