PEKANBARU, TintaKitaNews.com – Kenaikan harga tiket pesawat akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata pada biaya perjalanan ibadah umrah di Indonesia, khususnya Provinsi Riau. Untuk musim ibadah 1448 Hijriah, harga paket umrah diproyeksikan melonjak hingga Rp5 juta hingga Rp6 juta per jamaah.
Lonjakan biaya ini dipicu dua faktor utama, yakni kenaikan harga avtur akibat konflik di kawasan Timur Tengah serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang nyaris menembus angka Rp17.500 per satu dolar AS. Kondisi tersebut berdampak berantai pada seluruh komponen biaya operasional perjalanan, mulai dari tiket pesawat, akomodasi hotel, transportasi darat, hingga kebutuhan konsumsi jamaah selama berada di Tanah Suci.
Situasi ini memicu keresahan kalangan pelaku usaha jasa perjalanan ibadah umrah di Riau. Sebanyak lebih dari 30 pemilik biro perjalanan wisata berkumpul di Pekanbaru, Senin (11/5/2026), guna menyatukan sikap merespons kebijakan kenaikan tarif tiket yang diberlakukan sejumlah maskapai penerbangan.
Pertemuan tersebut turut dihadiri pemilik Riau Wisata Hati sekaligus penyalur utama tiket Batik Air, HM Dawood. Dalam forum diskusi itu, para pelaku usaha menyatakan keberatan atas besaran kenaikan harga tiket yang dinilai terlalu tinggi dan membebani baik pihak pengelola perjalanan maupun calon jamaah.
“Kami memahami gejolak geopolitik di Timur Tengah memang berperan menaikkan harga bahan bakar pesawat. Namun angka kenaikan yang ditetapkan maskapai sangat memberatkan kami maupun jamaah. Kami sangat berharap kebijakan ini dapat ditinjau ulang,” ujar salah satu pemilik biro perjalanan dalam pertemuan.
Selain lonjakan tarif tiket, pelaku usaha juga tertekan oleh anjloknya nilai tukar rupiah. Hal ini membuat biaya sewa hotel, penyewaan bus, serta berbagai layanan pendukung lainnya di Arab Saudi ikut melonjak drastis.
HM Dawood mengaku memahami kegelisahan rekan-rekan pengusaha perjalanan umrah. Ia berkomitmen akan menyampaikan seluruh aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut kepada pihak manajemen maskapai penerbangan terkait.
“Saya akan sampaikan seluruh aspirasi rekan-rekan ini kepada pihak maskapai. Apa pun hasil pembicaraannya, nanti akan kami kabarkan kembali secara rinci,” tegasnya.
Meski mendesak adanya evaluasi besaran tarif, para pelaku usaha sepakat bahwa kenaikan harga paket umrah saat ini sulit dihindari. Hal itu disebabkan faktor pemicu bersifat global dan berada di luar kendali penyelenggara perjalanan ibadah.
Di tengah tekanan kenaikan biaya, para pengusaha berkomitmen tetap mengutamakan kualitas pelayanan kepada jamaah. Mereka juga sepakat menyampaikan kondisi yang terjadi secara terbuka dan transparan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Kami mengimbau seluruh jamaah agar tetap tenang dan memahami situasi ini. Seluruh perubahan harga terjadi karena faktor eksternal yang sama sekali bukan kebijakan dari pihak kami,” ujar salah satu peserta rapat.
Bagi jamaah yang telah mendaftar dan memiliki jadwal keberangkatan tetap, kenaikan biaya ini menjadi konsekuensi yang harus diterima. Sebagian besar biro perjalanan memilih tetap memberangkatkan jamaah sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Keputusan ini diambil mengingat belum ada kepastian harga akan kembali normal jika keberangkatan ditunda.
Dari sisi calon jamaah, sejumlah pelaku usaha menyampaikan mayoritas jamaah dapat memahami kondisi yang terjadi. Bahkan, banyak di antaranya tetap memilih berangkat sesuai jadwal meski harus menambah biaya, dikhawatirkan harga paket umrah justru akan kembali naik jika keberangkatan diundur ke waktu mendatang

Tinggalkan Balasan