MEDAN – Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendorong percepatan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global serta menjawab tantangan isu lingkungan internasional.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI ke kantor Regional 1 PTPN IV di Medan, Sumatera Utara, pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026. Rombongan menyoroti progres transformasi yang dijalankan Holding Perkebunan PTPN III (Persero) beserta entitas anak usaha.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, menekankan bahwa penerapan ESG saat ini bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan strategis bagi keberlangsungan industri.
“ESG bukan lagi pilihan moral, tetapi kebutuhan strategis. Sektor ini sangat bergantung pada kualitas lingkungan, ketersediaan air, kesuburan tanah, dan dukungan masyarakat,” ujar Nurdin dalam arahannya kepada jajaran manajemen, BP BUMN, dan Danantara Asset Management, Jumat (24/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Bisnis PTPN III, Ryanto Wisnuhardi, memaparkan bahwa transformasi tata kelola mulai menunjukkan hasil positif. Kinerja keuangan grup tercatat membaik, ditopang kontribusi signifikan dari subholding kelapa sawit, PTPN IV PalmCo, yang menyumbang sekitar 80 persen dari total pendapatan grup.
Secara global, PTPN Group juga dinilai memiliki manajemen risiko keberlanjutan yang baik dengan meraih skor ESG 17,1 atau kategori low risk dari lembaga pemeringkat internasional Sustainalytics.
Sementara itu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, memastikan perusahaan terus memacu upaya dekarbonisasi. Hingga saat ini, tercatat penurunan emisi gas rumah kaca mencapai 28,88 persen. Selain itu, perusahaan juga memperluas kemitraan melalui program plasma yang kini mencapai 46.314 hektare.
“Efisiensi bisnis dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan. Kami mendorong keduanya sebagai motor pertumbuhan perusahaan,” tutur Jatmiko.
Anggota Komisi VI DPR RI, Nasril Bahar, memberikan apresiasi terhadap langkah tersebut. Ia menilai perbaikan tata kelola menjadi indikator positif bahwa transformasi berjalan efektif di tengah tantangan industri global.
Ke depan, PalmCo menyiapkan strategi jangka panjang hingga tahun 2030. Perusahaan merencanakan pembangunan 36 fasilitas energi baru dan terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga biogas dan compressed biomethane gas (CBG).
Program ini ditargetkan mampu menekan emisi hingga 54,46 persen dibandingkan skenario business as usual. Dengan konsistensi ini, diharapkan industri sawit nasional semakin modern, transparan, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan