JAKARTA, TintakitaNews.com – Kementerian Kebudayaan (Kemenkebudayaan) menjalin kerja sama dengan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) untuk memajukan kebudayaan nasional sesuai amanat UUD 1945. Kerjasama ini disepakati saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima audiensi JMSI di kantor institusinya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Fadli Zon menegaskan kepercayaannya pada kredibilitas dan komitmen JMSI sebagai konstituen Dewan Pers dalam pengembangan kebudayaan nasional. Menurutnya, media memiliki peran penting sebagai sarana apresiasi dan promosi kekayaan budaya Indonesia.
“Ini hal yang sangat baik, karena media dapat menjadi sarana apresiasi sekaligus promosi kekayaan budaya kita,” ucapnya.
Menteri mengemukakan bahwa penguatan kebudayaan memiliki landasan konstitusional kuat berdasarkan Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Ia juga menekankan bahwa aspek immaterial kebudayaan harus menjadi fondasi sebelum membahas pembangunan material sesuai Pasal 33 UUD 1945.
“Saat ini kami tengah menghimpun dan mendigitalisasi sekitar 7.000 cerita rakyat serta mitologi Nusantara yang tersebar dari Sabang hingga Papua. Cerita-cerita ini memiliki potensi besar untuk diperkenalkan ke dalam dan luar negeri,” jelas Fadli.
Ketua Umum JMSI Teguh Santosa menegaskan pihaknya siap berkolaborasi dalam mengangkat dan mempromosikan kebudayaan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Dengan jaringan sekitar 900 perusahaan pers daring yang tergabung, ia meyakini JMSI dapat berkontribusi secara berkelanjutan.
“Kemampuan membangun narasi dari mitologi dan cerita rakyat perlu diperkuat agar dapat dibaca dan dipahami secara luas,” ujar Teguh.
Selain itu, Fadli juga memaparkan sejumlah temuan sejarah yang tengah dikaji, termasuk penentuan ulang titik pendaratan pertama saudagar Belanda Cornelis de Houtman di Banten akibat pergeseran garis pantai akibat sedimentasi.
Di tingkat internasional, Indonesia menunggu pengumuman UNESCO terkait pengakuan tempe sebagai warisan budaya akhir tahun ini. Kemenkebudayaan juga tengah mengajukan sejumlah warisan budaya tak benda lainnya seperti rendang, serta mendorong pendaftaran objek budaya benda selain batik ke UNESCO.
Usai pertemuan, kedua pihak saling tukar buku. Fadli menyerahkan buku “The Wonder of Indonesian Wayang”, sedangkan Teguh menyerahkan buku “Reunifikasi Korea: Game Theory”.

Tinggalkan Balasan