LEBAK, TintaKitaNews.com – Perguruan Silambawiqri asal Kabupaten Lebak berhasil meraih dominasi prestasi pada Kejuaraan Pencak Silat Santri Championship 2026 tingkat provinsi, setelah mengumpulkan 53 medali emas, 28 perak, dan satu perunggu selama pertandingan berlangsung Jumat hingga Minggu (23‑25/10/2026) di Pondok Pesantren Daarel Al‑Azhar, Rangkasbitung.

Capaian medali itu membawa perguruan ini menyabet juara umum pertama kategori usia dini prestasi, juara umum kedua kategori remaja prestasi, serta dua juara umum ketiga pada kategori pra‑remaja dan remaja pemasalan. Dua gelar atlet terbaik juga berhasil diraih oleh M. Hidayat (usia dini putra) dan Haura Husniyyatin Nadiroh (remaja putra) dari Silambawiqri.

Kejuaraan tingkat provinsi ini diikuti sebanyak 1.100 atlet dari puluhan padepokan dan pesantren se‑wilayah Banten, dengan persaingan sengit di nomor tanding maupun seni pencak silat tradisional. Menurut perwakilan panitia, penampilan tim Silambawiqri menonjol karena penguasaan jurus tradisional yang kuat, teknik yang matang, serta sportivitas tinggi selama bertanding.

“Silambawiqri ini komplit. Jurus tradisinya kuat, sportivitasnya tinggi, dan pembinaan santrinya terlihat. Wajar jika atlet mereka memiliki kemampuan yang baik,” ungkap perwakilan panitia.

Salah satu Pembina Silambawiqri Moch. Aji Kamarullah menjelaskan keberhasilan ini lahir dari pembinaan menyeluruh yang tidak hanya fokus pada teknik bertanding. Tim telah melakukan persiapan khusus selama dua bulan sebelum kejuaraan, termasuk simulasi pertandingan dan evaluasi kelemahan masing‑masing santri.

“Kami membina santri dari berbagai aspek: teknik pencak silat, kebugaran fisik, mental bertanding, hingga akhlak sebagai pesilat. Latihan terjadwal, kedisiplinan, dan bimbingan keagamaan menjadi fondasi utama agar mereka tampil percaya diri namun tetap rendah hati di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Perguruan Silambawiqri KH. Upen Ruspendi menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras, disiplin, dan doa para santri selama berbulan‑bulan. Ia juga berterima kasih kepada pihak tuan rumah yang telah menyelenggarakan ajang dengan lancar.

“Alhamdulillah, kami datang bukan hanya untuk bertanding, tapi untuk mengharumkan nama perguruan dan melestarikan warisan pencak silat leluhur. Terima kasih untuk Ponpes Daarel Al‑Azhar selaku tuan rumah yang telah menyelenggarakan ajang ini dengan baik,” ujarnya.

Acara penutupan kejuaraan diisi dengan penyerahan piala juara umum, piagam penghargaan, dan uang pembinaan kepada para pemenang, lalu diakhiri doa bersama pimpinan Pondok Pesantren Daarel Al‑Azhar. Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembinaan pencak silat berbasis pesantren di Kabupaten Lebak terus berkembang dan mampu melahirkan atlet‑atlet berpotensi untuk bertanding di tingkat yang lebih tinggi.(*)