LEBAK, TintaKitaNews.com – Pekerjaan pembangunan infrastruktur jalan kabupaten di Desa Cisimet, Kecamatan Leuwidamar tepatnya wilayah Simpang Tiga, menjadi sorotan publik. Hal ini bermula dari beredarnya video yang memperlihatkan proses pengecoran jalan diduga dikerjakan secara manual atau dikenal dengan istilah rabat giring, bukan menggunakan mesin molen.

Merespons beredarnya rekaman tersebut, awak media meminta klarifikasi langsung kepada Kepala Desa Cisimet, Jaro Eding. Dalam keterangannya melalui sambungan WhatsApp, Kamis (9/7/2026), Jaro membantah jika seluruh pekerjaan dilakukan secara manual, namun mengakui ada sebagian yang menggunakan cara tersebut.

“Itu yang di video tinggal sisa pekerjaan saja yang pakai rabat giring. Dari awal pekerjaan menggunakan molen,” ujar Jaro Eding, sembari mempertanyakan langkah media yang dinilainya langsung memberitakan tanpa konfirmasi lebih dulu, padahal saat itu awak media sedang berusaha mendapatkan keterangan terkait vidio tersebut darinya.

“Arie ieu saha? Kuduna konfirmasi heula ka Jaro, ulah maen beritakan bae. Eta kiriman video ti saha? (Ini siapa? Harusnya konfirmasi dulu kepada Kepala Desa, jangan langsung diberitakan. Video itu kiriman dari siapa?),” tambahnya.

Eding juga menegaskan kesiapannya bertanggung jawab atas hasil pekerjaan dan berjanji akan memperbaiki bagian yang dinilai tidak layak. Namun, ia juga melontarkan pernyataan bernada tantangan kepada pihak yang mempersoalkan proyek tersebut.

“Kalau memang ada masalah, datang saja ke saya, kita duduk bersama dan bicarakan letak kesalahannya. Kalau tidak mau duduk bersama, ya sudah, gelut saja sama saya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut ternyata bertolak belakang dengan pengakuan salah seorang warga yang menyaksikan langsung proses pembangunan sejak awal. Warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan itu menyatakan penjelasan Kepala Desa hanyalah alibi semata.

“Itu bohong, hanya alibi saja. Saya lihat dari awal memang dikerjakan dengan rabat giring. Menurut saya, pengecoran seperti itu tidak akan kuat, apalagi di tanjakan Cisepan yang sebelumnya juga sudah rusak lagi,” ungkap warga tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak, H. Dade Yan Apriandi menyayangkan jika pekerjaan tersebut benar-benar dikerjakan secara manual.

“Kenapa kepala desa bangun pakai manual, tidak pakai molen? Kenapa rabat giring pekerjaannya,” ujar H. Dade saat dikonfirmasi awak media.

Meski tidak melarang penggunaan kedua metode tersebut secara peraturan, H. Dade mengingatkan perbedaan kualitas yang dihasilkan. Penggunaan molen membuat adukan semen lebih merata, sementara cara manual memiliki risiko ketidakkonsistenan campuran yang berdampak langsung pada ketahanan jalan.

“Sebenarnya tidak apa-apa menggunakan molen maupun rabat giring. Tetapi, apakah kualitasnya bisa terjamin? Kalau memakai molen, adukan lebih merata. Sedangkan kalau rabat giring, kualitas adukannya tidak selalu sama. Jadi, pada akhirnya kembali lagi pada kualitas pelaksanaannya,” jelasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya mendapatkan konfirmasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait guna melengkapi informasi yang akurat bagi publik.