LEBAK, TintaKitaNews.com – Kondisi jalan poros yang menghubungkan tiga desa di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten yakni Desa Tanjung Wangi, Pasir Nangka, dan Pasir Eurih berada dalam kondisi rusak parah dan memprihatinkan. Kerusakan jalan yang dipenuhi lubang, berlumpur saat hujan, serta berbatuan tajam kini berdampak serius terhadap dunia pendidikan, khususnya bagi siswa dan tenaga pengajar di SMAN 2 Muncang, sementara usulan perbaikan yang diajukan sejak 2023 hingga 2026 belum mendapatkan tindakan nyata dari pemerintah daerah.

Ilham, perwakilan SMAN 2 Muncang, menyatakan kondisi akses jalan menuju sekolah sangat mengganggu seluruh aktivitas pendidikan. Jalan yang sulit dilalui menghambat mobilitas, meningkatkan risiko kecelakaan, dan sering menyebabkan keterlambatan yang mengurangi jam efektif kegiatan belajar mengajar. Dampak ini tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga tenaga pengajar, distribusi logistik sekolah, hingga akses tamu kedinasan yang terhambat.

“Secara fisik gedung sekolah kami mampu menampung lebih banyak siswa. Namun, akses jalan yang buruk membuat calon peserta didik dan orang tua berpikir ulang untuk bersekolah di sini, terutama yang berasal dari wilayah jauh. Kapasitas gedung belum bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Ilham, Selasa (12/5/2026).

Kondisi infrastruktur tersebut juga memengaruhi minat warga untuk memilih SMAN 2 Muncang sebagai tempat menimba ilmu, terlebih setelah diterapkannya sistem zonasi pendidikan. Tak sedikit calon siswa yang akhirnya memilih bersekolah ke Kecamatan Leuwidamar karena akses jalan yang lebih layak.

Padahal, usulan perbaikan jalan penghubung tiga desa ini telah disampaikan berulang kali. Kepala Desa Tanjung Wangi, Satria, mengungkapkan usulan telah masuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sebanyak tiga kali, berturut-turut pada 2023, 2024, 2025, hingga diperpanjang usulannya pada 2026. Berbagai langkah juga telah diambil warga dan perangkat desa, mulai mendatangi Kantor Bupati Lebak, mengajukan proposal resmi, hingga membawa persoalan ke tingkat Pemerintah Provinsi Banten lewat Ketua Lembaga Desa Bersatu dan Ketua APDESI Kabupaten. Namun, hingga kini belum ada respon positif maupun tindakan nyata.

“Kami sudah berjuang sampai ke tingkat provinsi, tapi faktanya jalan masih rusak parah. Hanya janji yang kami dapatkan, tanpa bukti perbaikan di lapangan,” tegas Satria.

Warga pun menyoroti janji-janji politik yang dilontarkan saat masa kampanye. Jalan ini pernah menjadi materi janji pasangan calon yang diusung tim pemenangan Ega-Epul, namun hingga kini belum ada realisasinya. Darja, salah satu warga, mengaku kecewa karena janji tersebut hanya tertulis dan diucapkan, tidak ada tindakan nyata demi keselamatan warga dan pelajar.

Keluhan senada disampaikan Ojak, warga Kampung Mekar Tanjung yang tinggal berdekatan dengan SMAN 2 Muncang. Ia menyebut kerusakan jalan sudah berlangsung lama, dan saat hujan jalan menjadi sangat licin serta berlumpur. Banyak kendaraan tergelincir atau jatuh, membahayakan keselamatan anak-anak yang berangkat sekolah setiap hari.

“Kami sering melihat seremoni pembangunan di tempat lain, tapi di sini kami masih berjuang dengan jalan rusak. Ini bukti nyata pemerataan pembangunan belum merata. Kami berharap pemerintah tidak hanya datang saat kampanye, tapi serius memperbaiki jalan ini sebagai urat nadi pendidikan dan akses kebutuhan sehari-hari,” ujar Ojak.

Pihak sekolah meminta pemerintah daerah segera melakukan pengerasan atau pengaspalan jalan agar aman dilalui kendaraan roda dua maupun empat di segala cuaca. Jalan ini dianggap bukan sekedar jalur transportasi, melainkan penunjang utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah Muncang.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya mengonfirmasi pihak terkait di Pemerintah Kabupaten Lebak maupun Pemerintah Provinsi Banten guna mendapatkan tanggapan resmi.