LEBAK, TintakitaNews.com – Penyedia jasa layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, akhirnya memberikan klarifikasi terkait protes orang tua siswa yang mengklaim anak mereka sakit setelah mengonsumsi makanan program tersebut. Pihak penyedia menegaskan seluruh menu, termasuk hidangan penutup, telah disiapkan sesuai standar kesehatan dan higienitas yang ketat.
Klarifikasi ini disampaikan menyusul laporan adanya satu siswa di SDN 3 Ciuyah yang mengalami gangguan pencernaan hingga harus dirawat di rumah sakit. Orang tua menduga kejadian tersebut dipicu oleh konsumsi makanan dingin (es) yang dianggap tidak cocok dengan kondisi cuaca dan daya tahan tubuh anak.
Menanggapi hal tersebut, Lilik selaku pemilik dapur penyedia makanan memastikan bahwa bahan baku dan proses pengolahan dilakukan dengan standar yang sangat ketat. Ia menjelaskan bahwa penyajian makanan penutup merupakan bagian dari variasi menu untuk memenuhi asupan gizi seimbang.
“Kami ingin menegaskan bahwa semua makanan yang kami kirim ke sekolah sudah melalui tahap pemeriksaan kebersihan yang ketat. Untuk menu penutup itu kami buat sendiri di dapur dengan bahan yang fresh dan higienis, bukan produk sembarangan,” ujar Lilik kepada awak media, Kamis (16/4/2026).
Lilik juga menambahkan bahwa suhu penyajian makanan telah diperhitungkan agar tetap aman dikonsumsi. Menurutnya, dugaan bahwa es menjadi penyebab utama diare perlu ditelusuri lebih lanjut, mengingat ratusan siswa lain di lokasi berbeda juga menerima menu yang sama namun tidak mengalami keluhan serius.
“Suhu makanan kami jaga agar tetap aman. Kalau ada anak yang sakit, bisa jadi faktor lain seperti kondisi tubuh masing-masing atau mungkin mereka makan sesuatu di luar menu yang kami sediakan. Namun kami tetap menghargai masukan dari orang tua,” tambahnya.
Sementara itu, Erlah selaku bagian administrasi dan akuntan menambahkan bahwa komposisi menu telah disusun berdasarkan pedoman gizi yang ditetapkan. Ia memastikan tidak ada penghematan bahan yang dilakukan hingga mengorbankan kualitas atau keamanan makanan.
“Secara administrasi dan standar operasional, kami berpegang teguh pada aturan yang ada. Menu disusun agar anak-anak mendapatkan nutrisi lengkap. Kami juga selalu memantau tanggal kedaluwarsa semua bahan baku,” jelas Erlah.
Sebelumnya, orang tua siswa di SDN 3 Ciuyah melayangkan protes keras terkait pelaksanaan program ini. Mereka menilai penyajian menu tidak memenuhi standar kesehatan, khususnya adanya hidangan penutup berupa es yang diduga kuat menjadi penyebab gangguan pencernaan.
Salah satu wali murid yang minta namanya tidak disebutkan meminta agar menu es dihilangkan atau diganti dengan hidangan yang lebih aman dan hangat. Akibat kondisi tersebut, salah satu siswa diketahui harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama empat hari.
“Kami meminta agar menu es dihilangkan atau diganti dengan hidangan yang lebih aman dan hangat. Selain itu, kebersihan bahan baku dan proses pengolahan makanan harus benar-benar terjaga,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih berupaya mengonfirmasi lebih lanjut keterangan dari pihak sekolah maupun dinas terkait terkait persoalan ini.

Tinggalkan Balasan