BANTEN, TintaKitaNews.com – Dua anak kecil warga Kampung Pasir Makam, Desa Mekarsari, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, meninggal dunia setelah terpeleset dan hanyut di kolam atau bak kontrol lokasi proyek Saluran Pembawa Air Baku Karian-Serpong (KSCS). Insiden naas ini terjadi pada Selasa (14/4/2026) sekira pukul 14.30 WIB.
Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, kedua korban yang masih berusia balita tersebut tidak sengaja terpeleset saat berada di area proyek. Tubuh mereka kemudian hanyut terbawa arus di dalam saluran proyek strategis nasional tersebut hingga meninggal dunia.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dua anak kecil yang berdomisili di Kp. Pasir Makam Desa Mekarsari tadi jam 14.30 WIB setelah hanyut di kolam proyek,” ujar salah satu warga setempat.
Kematian kedua bocah ini menuai sorotan tajam dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Banten Corruption Watch (BCW). Ketua BCW, Ana Triana, menyesalkan adanya korban jiwa di proyek bernilai triliunan rupiah tersebut. Menurutnya, hal ini menunjukkan pengabaian terhadap standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Kami menyayangkan proyek strategis nasional senilai triliunan abai terhadap keselamatan (K3) di lokasi proyek, hingga menelan korban anak kecil meninggal dunia,” tegas Ana Triana.
Proyek Senilai Rp2,44 Triliun
Diketahui, proyek Karian Dam-Serpong Water Conveyance System (KSCS) Package 3 ini bernilai Rp2,44 triliun. Proyek ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan memenuhi kebutuhan air baku untuk wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Pembangunan jalur pipa utama membentang sepanjang ±35,75 kilometer, sementara jalur cabang sepanjang ±14,28 kilometer, melintasi 28 desa di tiga kabupaten. Proyek ini dikerjakan oleh konsorsium BUMN konstruksi di bawah pengawasan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) dan Kementerian PUPR.
Selain soal keselamatan di area kolam proyek, BCW juga menyoroti kondisi infrastruktur pendukung. Sekretaris BCW, Agus Suryaman, menjelaskan bahwa penggunaan jalan desa sebagai akses alat berat telah membuat jalanan menjadi rusak, becek, dan licin. Kondisi ini sangat membahayakan warga, terutama anak sekolah yang setiap hari melintas.
“Persoalan K3 di lokasi proyek dan jalan lintas proyek harus menjadi perhatian serius. Hari ini ada yang meninggal di kolam proyek, kami khawatir terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan desa yang rusak dan becek,” ujarnya.
BCW menegaskan akan segera menyurati pihak terkait untuk meminta pertanggungjawaban penuh atas lemahnya pengawasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa warga. Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya mengonfirmasi keterangan resmi dari pihak pengelola dan pelaksana proyek terkait insiden tersebut.

Tinggalkan Balasan