JAKARTA, TintaKitaNews.com – Di tengah maraknya rumor, hoaks, dan berita dengan judul sensasional atau clickbait di ruang digital, peran jurnalis profesional semakin krusial sebagai benteng kebenaran publik. Praktisi dan pengamat media Eric Vr menegaskan bahwa fungsi utama wartawan saat ini telah bertransformasi menjadi pelindung masyarakat dari banjir informasi yang tidak benar.
Dalam pernyataannya kepada awak media, Rabu (15/7/2026), Eric menjelaskan bahwa makna “menolong” yang melekat pada profesi wartawan bukan lagi sekadar memaparkan penderitaan untuk memancing rasa simpati.
“Menjadi penolong yang paling autentik di era digital adalah dengan menyajikan kebenaran yang sudah terverifikasi. Ketika masyarakat bingung membedakan fakta dan rekayasa di media sosial, di situlah wartawan hadir memberikan kepastian informasi yang jernih dan objektif,” ujarnya.
Eric mengingatkan bahwa godaan untuk menjadi yang tercepat menyebarkan berita sering kali menguji kebijaksanaan para jurnalis. Ia mengutip Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik yang mewajibkan setiap berita yang dihasilkan harus akurat dan berimbang.
“Kecepatan tanpa akurasi adalah bencana bagi jurnalisme. Lebih baik terlambat beberapa menit namun menyampaikan kebenaran utuh, daripada cepat namun justru menyebarkan kepalsuan,” tegasnya.
Ia menambahkan, praktik clickbait yang mengutamakan keuntungan iklan digital di atas empati dan kebenaran sempat mengikis kepercayaan serta penghargaan masyarakat terhadap profesi pers yang dulu sangat terhormat.
Untuk mengembalikan kepercayaan tersebut, Eric menekankan seluruh insan pers harus kembali pada jalur profesionalisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
“Masyarakat akan menyayangi wartawan yang berdiri bersama mereka. Rasa hormat dan cinta masyarakat akan tumbuh secara alami jika wartawan berani menyuarakan keadilan, membongkar penyalahgunaan kekuasaan, serta membela hak publik dengan cara yang profesional dan santun,” jelasnya.
Menurut Eric, profesionalisme jurnalis masa kini adalah perpaduan antara penguasaan teknologi multimedia dan kepatuhan mutlak pada kaidah etika. Meski wajib menguasai berbagai platform penyebaran informasi, kompas moral para wartawan tidak boleh bergeser dari Kode Etik Jurnalistik.
Tantangan terbesar yang dihadapi pers saat ini adalah tekanan algoritma media sosial yang kerap mendorong ruang redaksi untuk memproduksi konten dangkal yang bersifat sensasional.
Pada akhir pernyataannya, Eric mengingatkan generasi jurnalis muda agar tidak tunduk pada aturan algoritma.
“Teknologi dan algoritma hanyalah alat yang tidak memiliki hati nurani. Wartawan memilikinya. Jangan biarkan algoritma mendikte moralitas pemberitaan. Gunakanlah teknologi untuk memperluas jangkauan kebenaran, bukan melipatgandakan kesesatan,” pungkasnya.
Dengan komitmen etis yang kuat, jurnalisme era digital diprediksi tidak akan kehilangan arah dan tetap menjadi profesi yang disegani serta dicintai masyarakat.

Tinggalkan Balasan