JAKARTA, TintaKitaNews.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Persatuan Indonesia menggelar aksi damai di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026). Gerakan ini disampaikan sebagai bentuk koreksi demokratis tanpa konfrontasi, dengan sikap terbuka mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) namun disertai tuntutan perbaikan tata kelola anggaran.

Mengusung tema “Mimbar Mahasiswa: Bangkit Berdialog, Tolak Provokasi, Selamatkan Demokrasi”, para mahasiswa memilih pendekatan intelektual ketimbang kegaduhan jalanan. Dalam orasi, mereka menyoroti tiga persoalan utama bangsa, yakni maraknya korupsi, meluasnya disinformasi, serta pelaksanaan program pemerintah yang dinilai kurang transparan dan akuntabel.

Hikmah Maulana, perwakilan aliansi dari Universitas Jayabaya, menegaskan gerakan ini bukan untuk memusuhi pemerintah, melainkan meluruskan arah pembangunan. “Perubahan substantif lahir dari adu argumen, bukan kebisingan. Kami hadir mengingatkan, bukan menjatuhkan,” ujarnya.

Sikap tegas terlihat dalam pandangan mereka terhadap Program MBG. Berbeda dengan seruan penghentian total yang muncul dari sejumlah pihak, aliansi justru menyatakan dukungan terhadap tujuan mulia program tersebut sebagai fondasi menyiapkan Generasi Emas 2045. Namun dukungan itu tidak diberikan secara buta.

“Iya kami dukung MBG, asalkan dikelola bersih. Dugaan penyimpangan yang ada harus dibuktikan dan ditindak tegas agar anggaran rakyat tepat sasaran,” tegas Ikhsan Buyung Kalean, perwakilan dari Universitas Ibnu Chaldun.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, aliansi juga merumuskan lima tuntutan pokok yaitu :

1. Audit menyeluruh terhadap kinerja lembaga negara, khususnya pada program strategis seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih sesuai prinsip pemerintahan yang baik;
2. Menghentikan persekusi terhadap diskusi ilmiah di kampus maupun ruang publik;
3. Menjaga stabilitas ekonomi dengan memastikan harga BBM bersubsidi terjangkau dan penyalurannya tepat sasaran;
4. Melawan disinformasi serta mengajak masyarakat mengutamakan literasi daripada emosi;
5. Pejabat terbuka berdialog, termasuk menantang Wakil Menteri Pertanian Sudaryono hadir berdiskusi terbuka berbasis data.

Aliansi menyatakan turun ke jalan karena menilai ruang dialog formal selama ini kerap dikerdilkan oleh kepentingan politik sesaat. “Ini model perjuangan baru. Dukung yang baik, koreksi yang salah, bangun solusi bersama. Mahasiswa tetap menjadi pengawal demokrasi yang bertanggung jawab,” pungkas Ikhsan.