SERANG, TintaKitaNews.com – Manajemen PT Inti Sumber Baja Sakti (ISBS) yang beroperasi di Desa Bojot, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Banten, kembali memicu polemik ditengah masyarakat. Pasalnya,  Perusahaan dinilai tidak memiliki itikad baik usai mangkir dari jadwal pertemuan dan memilih diam terkait kesepakatan penyerapan tenaga kerja lokal.

Sikap diam tersebut semakin mempertegas kecurigaan masyarakat bahwa pihak perusahaan berusaha menghindari tanggung jawab. Hingga berita ini diturunkan, berbagai upaya konfirmasi yang dilakukan awak media maupun perwakilan warga belum mendapatkan respons jelas dari pihak manajemen.

“Perusahaan jangan seolah-olah menutup mata. Kami butuh kejelasan, bukan diam. Kalau terus seperti ini, wajar kalau warga merasa diabaikan,” tegas Dogel, perwakilan masyarakat Desa Bojot, Rabu (22/4/2026).

Mangkir Rapat, Alasan Sibuk Operasional

Kronologi kemarahan warga memuncak setelah pihak perusahaan secara sepihak membatalkan pertemuan yang telah disepakati pada Selasa (21/4/2026). Padahal, agenda pertemuan tersebut telah disetujui sebelumnya melalui komunikasi resmi.

Sebelumya ketika dikonfirmasi, Ujang selaku Humas PT ISBS membenarkan pembatalan tersebut. Ia mengaku tidak hadir lantaran pihaknya sedang disibukkan dengan urusan operasional dan tumpukan barang.

“Iya bang, semalam sudah komunikasi. Namun karena sedang sibuk dengan banyaknya barang, jadi belum sempat. Nanti kalau sudah tidak sibuk akan dikabari kembali,” ujar Ujang singkat.

Jawaban tersebut dinilai warga sebagai alasan yang tidak memuaskan dan menunjukkan ketidakseriusan. Menurut mereka, hal ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk pengabaian terhadap hak masyarakat.

Diketahui, Inti dari persoalan ini bermula dari dugaan pelanggaran kesepakatan yang ditandatangani sejak 27 September 2024. Dalam dokumen tersebut, perusahaan berjanji akan memprioritaskan putra-putri daerah setempat dalam penerimaan karyawan, kecuali untuk posisi tenaga ahli spesifik yang belum dimiliki warga.

Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Dominasi pekerja dari luar daerah terlihat jelas, sementara warga lokal justru tersingkir. Ironisnya, ketika dikonfirmasi terkait rekrutmen, perwakilan perusahaan justru saling lempar tanggung jawab.

Novianto, perwakilan PT ISBS, mengaku tidak berwenang dalam proses perekrutan dan mengalihkan ke bagian HRD. Sementara Humas Ujang hanya mengakui bahwa posisi Bongkar Muat (BM) yang terbuka bagi warga lokal. Padahal, diketahui perusahaan saat ini juga membuka lowongan untuk posisi operator, sopir, hingga cleaning service yang dinilai tidak memerlukan keahlian khusus.

Di sisi lain, kekecewaan juga disampaikan oleh elemen pemuda. Ususp, tokoh pemuda setempat, menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kejelasan. Jika perusahaan tetap tidak kooperatif, warga siap mengambil langkah tegas sesuai aturan yang berlaku.

“Sebagai perusahaan yang beroperasi di lingkungan kami, seharusnya ada komunikasi yang baik. Jangan hanya hadir saat butuh, tapi diam saat muncul persoalan. Kalau memang tidak ada itikad baik, kami siap mendorong langkah-langkah lain,” tegasnya.

Sementara itu, Pengamat dan tokoh masyarakat menilai sikap perusahaan ini telah mengabaikan prinsip Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR. Ento Masykur, aktivis peduli pembangunan, menilai integritas perusahaan patut dipertanyakan jika hanya mementingkan keuntungan semata.

“Perusahaan tidak boleh hanya fokus pada keuntungan. Jika kesepakatan dengan masyarakat saja diabaikan, ini patut dipertanyakan integritasnya. Pemerintah harus hadir dan jangan sampai konflik ini berlarut-larut,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, masih mencoba mengonfirmasi pihak-pihak terkait.