LEBAK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan, dicurigai tidak berjalan sesuai standar di Kecamatan Cileles. Hal ini menjadi sorotan keras dari Keluarga Mahasiswa Kecamatan Cileles (KMKC) Lebak.

Program MBG dirancang untuk menurunkan angka stunting dan gizi buruk, sekaligus meningkatkan kesehatan, konsentrasi belajar, serta produktivitas anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, program ini juga diharapkan berperan sebagai lokomotif ekonomi lokal melalui pengadaan pangan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Secara prinsip, program ini disambut baik karena bisa dirasakan hingga pelosok daerah. Namun, kami akan mengawal dan mengawasi agar tidak menyimpang dari spesifikasi yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (Balitbangga),” ujar Ketua KMKC Lebak, Oji, kepada awak media pada Jumat (24/1/2025).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, KMKC menduga sebagian dapur penyedia makanan di Cileles tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Oji menegaskan, pihak investor dan mitra yayasan tidak boleh mengurangi kualitas makanan demi kepentingan kelompok tertentu.

Selain masalah kualitas, juga dicurigai ada oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru yang memanipulasi data penerima manfaat, yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program. “Hal ini akan menjadi kajian serius bagi internal kami,” jelasnya.

Oji menekankan pentingnya pengawasan bersama agar program unggulan Presiden bisa dirasakan secara merata, sekaligus memaksimalkan penggunaan sumber daya dan bahan pangan lokal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Hingga saat ini, awak media masih dalam upaya mengonfirmasi informasi tersebut kepada pihak-pihak terkait.