OpiniSyadir Ali

 

Jika jurnalis ingin tetap lurus, tidak mudah dibungkam, tidak tergoda oleh insentif ilegal, dan tidak terjebak dalam praktik meminta-minta, satu jalan yang paling masuk akal adalah mencapai kemandirian ekonomi. Caranya: berwirausaha, menjadi pengusaha, dan menguatkan fondasi finansial agar profesi ini berjalan sebagaimana mestinya, not sebagai kendaraan untuk keuntungan pribadi yang melanggar aturan dan kode etik.

Jurnalisme bukan profesi yang murahan. Ia lahir dari keberanian, hidup dari kejujuran, dan seharusnya dijaga dengan harga diri. Ketika seorang jurnalis masih menggantungkan hidup dari “uang pertemuan”, “uang klarifikasi”, atau praktik abu-abu lainnya, independensinya mulai runtuh. Bukan karena ia tidak memahami etika, melainkan karena ekonomi yang rapuh memaksanya berkompromi dengan nurani.

Padahal, jalan yang benar banyak dan terbuka lebar: menjalin kerja sama sesuai aturan, mendirikan perusahaan media sendiri, melengkapi legalitas dan verifikasi Dewan Pers, serta membangun relasi yang sehat, profesional, dan transparan. Semua itu legal, terhormat, dan tidak melanggar apa pun.

Jurnalis yang berjiwa pengusaha tidak kehilangan idealismenya, justru sebaliknya. Ia menjaga kemerdekaan sendiri, tidak mudah ditekan, diatur, atau dibeli, karena berdiri di atas kakinya sendiri.

Bagi mereka yang belum memiliki media, tidak tahu mulai dari mana, atau masih bingung membangun ekosistem usaha pers yang sehat, pintu tetap terbuka. Anda bisa menghubungi Syadir Ali, CEO Akhyar Media Kreatif, untuk belajar membangun media online secara profesional, legal, dan berkelanjutan dari jurnalis menjadi pengusaha media tanpa meninggalkan etika.

Kesimpulannya sederhana: Jangan mengotori profesi mulia ini. Berjalanlah sesuai aturan, pegang teguh kode etik, dan bangun kemandirian ekonomi. Jika pernah tersesat, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang benar.

Karena jurnalisme yang bersih hanya bisa lahir dari jurnalis yang merdeka secara pikiran, sikap, dan ekonomi.