LEBAK, TintaKitaNews.com – Ketua LSM Banten Corruption Watch (BCW) Kabupaten Lebak, Deni Setiawan, menyoroti kasus buruknya kualitas makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak. Menurutnya, insiden ini menjadi bukti nyata lemahnya manajemen pengelolaan dan pengawasan program pemerintah di lapangan.

Deni menilai, program strategis nasional yang bertujuan mencegah stunting ini justru berpotensi menjadi bumerang jika standar kualitas tidak dijaga ketat. Bau tidak sedap pada makanan yang disajikan merupakan indikasi jelas bahwa proses pengolahan, penyimpanan, atau kualitas bahan baku tidak memenuhi standar higienis dan layak konsumsi.

“Ini sangat memprihatinkan. Makanan yang seharusnya menyehatkan justru berpotensi mencederai kesehatan. Jika bau saja sudah menyengat dan membuat mual, bagaimana dengan kandungan bakteri atau keamanan gizinya,” tegas Deni kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).

Deni menilai, keluhan yang berulang namun tidak ditanggapi serius menunjukkan adanya kelalaian (negligensi) dari pihak penyelenggara. Selain masalah kualitas, BCW juga menyoroti aspek transparansi pengelolaan anggaran dan pemilihan vendor atau koki yang menangani program ini.

“Kami meminta Dinas terkait dan tim pengawas turun tangan segera. Jangan sampai program mulia ini dinilai gagal di lapangan hanya karena ketidakprofesionalan oknum pengelola. Jika terbukti ada penyimpangan atau pemborosan anggaran tanpa hasil yang maksimal, kami akan mendesak audit menyeluruh,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan warga penerima manfaat menggelar aksi protes di lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat pada Kamis (9/4/2026). Aksi ini dipicu oleh kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi dan berbau tidak sedap hingga membuat penerima merasa mual.

Para warga mengaku, menu yang disajikan berupa ikan lele, tempe, dan telur tercium bau yang sangat mengganggu. Kondisi ini membuat kelompok prioritas, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), khawatir akan gangguan kesehatan jika memaksakan diri untuk memakannya.

“Kami sudah beberapa kali mengeluh soal bau makanan, tapi tidak ada perubahan. Hari ini kami datang langsung ke sini karena khawatir kesehatan kami dan anak-anak terganggu,” ujar salah satu warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, keluhan serupa sebenarnya bukan kali pertama disampaikan. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan tegas maupun perbaikan signifikan yang dilakukan oleh pihak pengelola maupun instansi terkait.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG setempat belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan tersebut.