LEBAK – Muslih, sopir angkutan kota (angkot) jurusan Rangkasbitung-Kolelet, akhirnya buka suara terkait insiden jatuhnya seorang siswi SMK Negeri 2 Rangkasbitung bernama Nayla Yulianti dari angkotnya di Tikungan Lebong. Ia merasa dipojokkan atas tudingan tidak bertanggung jawab terhadap Nayla yang terjatuh saat menghindari jalan berlubang pada Selasa (28/10/2025) lalu.
Dengan nada bicara tenang, Muslih mengklarifikasi bahwa insiden tersebut terjadi di luar kendalinya dan berlangsung sangat cepat. Ia membantah telah bersikap abai terhadap keselamatan penumpangnya.
“Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Tapi, saya ingin meluruskan bahwa saya tidak lepas tanggung jawab. Semua terjadi begitu cepat,” ujar Muslih kepada awak media di kediamannya, Selasa (27/10/2025).
Muslih menjelaskan, saat kejadian, Nayla duduk di dekat pintu angkot sambil asyik memainkan ponsel tanpa berpegangan. Padahal, ia sudah berulang kali mengingatkan Nayla untuk tidak duduk di dekat pintu demi keselamatan.
“Saya sudah ingatkan Neng Nayla beberapa kali untuk tidak duduk di dekat pintu dan berpegangan. Tapi, mungkin karena asyik main HP, dia tidak menghiraukan,” ungkapnya.
Ketika melintasi Tikungan Lebong dengan kecepatan rendah, Muslih berusaha menghindari lubang di jalan. Nahas, diduga karena kaget, Nayla kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari angkot.
“Saya langsung berhenti dan membawa Neng Nayla ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Saya juga berusaha mencari tahu keluarganya dan ternyata saya kenal dengan orang tuanya. Jadi, saya bingung kenapa saya dituduh tidak bertanggung jawab,” tuturnya.
Setelah insiden tersebut, Muslih mengaku telah berupaya menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dengan mendatangi kediaman orang tua Nayla, Nunung. Namun, niat baiknya tersebut justru tidak disambut dengan baik.
“Saya datang dengan niat baik untuk meminta maaf dan menawarkan bantuan. Tapi, saya malah mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan. Saya sangat menyayangkan hal ini,” ujarnya dengan nada kecewa.
Muslih juga membantah dengan tegas tudingan adanya pengeroyokan atau perusakan di rumah Nunung. Ia menegaskan bahwa tidak ada tindakan kekerasan yang terjadi saat ia dan keluarganya mendatangi rumah Nunung.
“Itu tidak benar. Tidak ada pengeroyokan atau perusakan. Kami datang dengan sopan dan baik-baik,” tegasnya.
Keluarga Muslih berharap agar masalah ini dapat segera diselesaikan secara damai dan kekeluargaan tanpa adanya pihak yang memperkeruh suasana.
“Kami berharap semua pihak dapat berpikir jernih dan mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadi,” ujar M. Yusuf Efendy, perwakilan keluarga Muslih.
Hingga saat ini, awak media masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai insiden ini.

Tinggalkan Balasan