BANTEN – Habis manis sepah dibuang, tampaknya tidak cukup tepat untuk ditempatkan dalam kegaduhan menjelang Pemilu 2024, yang spesial lagi adalah untuk memilih calon Presiden dan Wakil Presiden, seperti sangat terlihat seakan memaksakan kehendak yang hanya terlihat dua pasangan calon di ikut sertakan berkompetisi di pesta Rakyat tersebut.
Padahal, efeknya jika di pasangkan hanya 2 Paslon polemik di masyarakat akan terjadi seperti bergontok gontok-gontokan demi memenangkan salah satu calon karena hanya ada si A dan B yang akan di pilih.
Ibarat kata, yang mendekati benar adalah kedurhakaan, suatu sikap yang melupakan kebaikan yang pernah diterima dalam bentuk sangat luar biasa, sehingga mampu menjadi bagian dari sejarah yang pantas dikenang, kemudian hal itu pun menjadi durjana manakala dilupakan, demikian disampaikan Aktivis sekaligus Pegiat Sosial Enggar B, S.Pd. Kamis, (2/11/2023).
“Akhir- akhir ini terlihat jelas, fenomena dalam Capres dan Cawapres 2024 terselupnya sikap culas, sehingga terkesan telah menghalalkan segala cara, salahsatunya kasak kusuk Pilpres 2024,” ungkap Bung Enggar sapaan akrabnya.
Bung Enggar mengatakan, padahal dalam kompetisi antara Capres dan Cawapres yang ingin dilihat oleh rakyat adalah etikabilitas yang bisa diselaraskan dengan intelektualitas yang merakyat dan ugahari.
“Sesungguhnya, sosok Capres dan Cawapres seperti itulah yang dicari-cari dan terus dinilai dan diamati oleh rakyat pemilih yang akan memberikan suara serta dukungannya,” katanya.
Menurutnya, rakyat juga sekarang sudah tidak terlalu perduli dengan mereka yang masih mau bergerilya dengan menebar sembako bahkan serangan fajar. Semua itu tidak lagi dianggap penting dan tidak lagi memusingkan kepala, karena boleh saja diterima dan boleh pula ditolak. Sebab yang terpenting adalah tetap kekeh dengan pilihan calon yang paling dianggap ideal atas berbagai aspek penilaian.
“Minimal seperti etikabilitas yang baik, dan intelektualitas mumpuni serta dapat dipercaya akan selalu berpihak pada rakyat,” ujarnya.
Bung Enggar menegaskan, hanya dengan syarat yang minimal seperti itu Presiden dan Wakil Presiden terpilih bisa dipercaya akan dapat menunaikan amanah rakyat sesuai dengan janji kemerdekaan yang tertuang di dalam Pembukaan UUD1945 yang asli dengan mengacu pada sila-sila Pancasila sebagai falsafah bangsa dan ideologi negara Indonesia.
“Karena itu dengan kemampuan dan kemauan serta itikad baik, sikap kebersamaan dalam upaya menjaga segenap kekayaan alam dan budaya miliki negeri ini tidak lagi boleh digadaikan atau diobral dengan semena-mena untuk memperkaya diri dan keluarga serta gerombolannya di eksekutif, di legislatif maupun di yudikatif seperti yang pernah terjadi pada periode pemerintahan di masa lalu,” tegasnya.
Bung Enggar mengingatkan kepada masyarakat jangan sampai kembali salah memilih Presiden dan Wakil Presiden, sebab dera dan derita akan dirasakan minimal lima tahun lamanya.
“Untuk itu kita harus cermat dan cerdas dalam memilih pemimpin karena bilangan lima tahun tersebut yang mendera warga bangsa ini, seperti yang sedang diujicobakan saat ini,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan